kain batik ulos Membahana Cuyy

Melestarikan budaya Sumut melalui ulos dan batik Batak

Indonesia


Rumah Ulos
Image caption Ulos selain berbentuk kain tradisional juga dibuat menjadi pakaian modern seperti kemeja.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi Sumatera Utara, khususnya kota Medan.

Berkali-kali mengunjungi kota yang terkenal akan Istana Maimun, baru pada kunjungan di tahun 2016 ini saya mendengar mengenai batik Sumatera Utara.

Rasa penasaran akan motif dan coraknya, membawa saya ke jalan Letda Sujono, Gang Pejuang, Medan.

“Mau bertemu siapa?” sapa seorang pemuda ramah.

Saat berusaha menjelaskan kedatangan saya yang ingin melihat batik Sumut dan mewawancarai pembuatnya, seorang wanita lanjut usia seketika hadir di antara kami.

“Saya Nurcahaya Nasution. Pemilik tempat pelatihan ini. Di sini kami membuat dan menjual batik Batak,” kata sang pemilik.

Bisnis pensiunan

Nurcahaya
Image caption Nurcahaya Nasution sedang memberi masukan kepada pegawainya yang membuat batik.

Nurcahaya membawa saya ke sebuah ruangan tempat dua lemari berada untuk menyimpan kain-kain batik.

Lemari-lemari tersebut dibagi dalam empat kompartemen, pada satu lemari contohnya tertulis ‘Batak Toba’. Lalu ada pula tulisan ‘Batak Simalungun’, ‘Batak Karo’ dan ‘Nias’.

“Saya tidak sengaja memulai ini. Awalnya cuma iseng-iseng,” jelas Nurcahaya.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, Nurcahaya pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan.

Karena merasa bosan tidak memiliki kegiatan, Nurcahaya kemudian mengikuti pelatihan membatik dan ketika belajar masih dengan motif Jawa.

Menang lomba

”Atas usul orang, ‘Bu, buat bu, motif Sumatera Utara’, dan kebetulan saya membuka pelatihan ini setelah menang lomba di Bandung,” kenang Nurcahaya.

Maka mulailah Nurcahaya membuat motif-motif sesuai etnis-etnis yang ada di Sumatera Utara.

Batik
Image caption Syarifah Hanum, seorang pengunjung, mencoba batik Sumut.

Hal ini tidak mudah, mengingat Sumatera Utara sebelumnya tidak mengenal budaya batik.

Batik Sumut, atau terkadang juga disebut batik Batak, adalah kreasi Nurcahaya.

Untuk membuat motif-motif tersebut, Nurcahaya mempelajari etnis-etnis yang ada di Sumatera Utara dari buku-buku.

“Dari situlah mula-mulanya, sehingga sudah kita lihat ‘Oh kalau Toba begini rupanya motifnya, kalau Karo seperti ini.’ Kita coba-cobalah, satu-satu ke batik tulis,” paparnya.

Kini dia sudah mempunyai pelanggan tetap, seperti instansi pemerintah daerah yang memesan bajunya untuk dijadikan seragam.

Namun Nurcahaya mengaku ingin agar batik Sumatera Utara dikenal ke seluruh Indonesia.

Toko suvenir Sumatera Utara

Perjalanan saya ke Medan kali ini memang membuka mata terhadap hal-hal baru.

Selain berkenalan dengan Nurcahaya, saya mendapatkan informasi bahwa kini kota Medan mempunyai toko yang menjual oleh-oleh khas Sumatera Utara.

ulos
Image caption Robert memproduksi aneka produk dengan bahan dasar ulos.

Rumah ulos namanya, yang baru diresmikan bulan Desember 2015 silam.

Berbentuk seperti rumah adat suku Batak, Rumah Ulos di Jalan AR Hakim, Medan, menjual aneka kerajinan khas Sumatera Utara seperti dompet, tas dan gantungan kunci.

Pemiliknya, Robert Sianipar, sebenarnya seorang pengusaha kain khas suku Batak, ulos.

“Saya punya pabrik ulos. Tidak jauh dari sini. Tapi di dalam gang,” kata Robert saat saya berjumpa dengannya di Rumah Ulos.

Dibonceng motor, Robert mengantar saya ke pabrik ulos miliknya yang memang berada di dalam sebuah gang namun mampu menampung sekitar 100 pengrajin ulos.

Kain ulos

Pabrik Ulos
Image caption Robert Sianipar sedang menyiapkan benang untuk dibuat kain ulos.

Berawal dari bisnis keluarga, Robert Sianipar sejak muda tertarik untuk merancang ulos dan menyulapnya menjadi barang-barang lain seperti tas dan tempat pensil.

Namun dia menilai, kala itu belum ada usaha yang pasti untuk memasarkan ulos maupun memperkenalkannya kepada para wisatawan. Para turis harus pergi ke luar kota Medan seperti daerah Balige -sekitar empat jam dari Medan- untuk melihat cara pembuatan ulos maupun membelinya.

Hal itu yang membuat Robert makin mantap untuk melestarikan ulos. Dia pun mulai menggeluti bisnis ini pada tahun 1992.

”Ulos yah, dalam bahasa Batak berarti kain yang disematkan ke badan. Dan ulos ini dibuat dengan berbagai arti.

“Jadi kalau di kita orang Batak, ulos itu dulunya dibuat untuk adat. Jadi mulai dari pernikahan, sampai dari kematian dan kelahiran itu semua ada artinya dan jenis-jenisnya,” tutur Robert.

Warna khas suku Batak, jelas Robert, adalah merah, putih dan hitam.

Modifikasi

Ulos
Image caption Ulos tradisional bentuknya seperti ini.

Oleh karena itu warna-warna tersebut yang umumnya digunakan untuk kain ulos.

Dewasa ini ulos bisa dimodifikasi penggunaannya sehingga warna dan motifnya pun dapat disesuaikan dengan keinginan pelanggan.

“Tapi kalau untuk yang menikah, biasa kita kasih warna yang meriah yah. Kemerah-merahan, biru atau warna yang menyalalah. Kalau untuk kemalangan biasanya warna gelap seperti hitam dan biru tua,” katanya.Media playback tidak ada di perangkat AndaExit player

Untuk menjalani bisnis dan toko suvenir, dibutuhkan dana hingga miliaran Rupiah.

Namun Robert bersyukur bahwa usahanya tersebut dibantu oleh Bank Indonesia dan juga Pemprov Sumut.

Sebab selain diharapkan dapat menjadi ikon baru dari kota Medan, baik usaha Robert maupun Nurcahaya Nasution adalah upaya untuk melestarikan dan mempromosikan budaya suku Batak dan etnis Sumatera Utara lainnya.

Setetes Tinta Mampu Mengubah Dunia


ULOS

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong”, yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.


Dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung, demikian sebutan yang disematkan sejarah pada mereka. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka tinggal dan berladang di kawasan pegunungan. Dengan mendiami dataran tinggi berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Dari sinilah sejarah ulos bermula.


Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. Al hajatu ummul ikhtira’at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis. Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.


Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang. Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.

Setelah mulai dikenal, ulos makin digemari karena praktis. Tidak seperti matahari yang terkadang menyengat dan terkadang bersembunyi, tidak juga seperti api yang bisa menimbulkan bencana, ulos bisa dibawa kemana-mana. Lambat laun ulos menjadi kebutuhan primer, karena bisa juga dijadikan bahan pakaian yang indah dengan motif-motif yang menarik. Ulos lalu memiliki arti lebih penting ketika ia mulai dipakai oleh tetua-tetua adat dan para pemimpin kampung dalam pertemuan-pertemuan adat resmi. Ditambah lagi dengan kebiasaan para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau pemberian kepada orang-orang yang mereka sayangi.

Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku Batak.

Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar pemberian hadiah biasa, karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam. Mangulosi melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak“. Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat negara, selalu diiringi oleh doa dan harapan semoga dalam menjalankan tugas-tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.

Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagai berikut:

1. Ulos Ragidup
Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena warna, lukisan serta coraknya memberi kesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Ulos Rangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak di daerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkawinan, ulos ini diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki.

2. Ulos Ragihotang
Hotang berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani jenazah atau untuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburan kedua kalinya.

3. Ulos Sibolang
Disebut Sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi (menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.

Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.

Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi dua bagian:

Pertama, Ulos Na Met-met; ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.

Kedua, Ulos Na Balga; adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Biasanya ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara dililithon; dililitkan dikepala atau di pinggang.

Berbicara soal harga, ulos dengan motif dan proses pembuatan sederhana relatif murah. Ulos kelas ini bisa dibeli dengan harga berkisar antara Rp. 6000 sampai Rp.250.000 bahkan lebih. Sementara untuk ulos kelas atas dengan kualitas bahan yang baik dan proses pembuatan yang lebih rumit, bisa diperoleh dengan harga berkisar antara ratusan ribu rupiah hingga jutaan. Misalnya songket khas Batak yang digunakan pengantin pria pada upacara pernikahan adat Batak, dibandrol Rp. 7,5 juta. Share4 Posted by Kukuh Trawoco at 9:40 PMEmail ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest Labels: batak, indonesia, pakaian adat, ulos

Ulos atau sering juga disebut kainulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurundikembangkan oleh masyarakat Batakhttp://en.wikipedia.org/wiki/Batak, Sumatera. Dari bahasaasalnya, ulos berarti kain. Caramembuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitumenggunakan alat tenunbukan mesin.Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasioleh ragam tenunan dari benang emas atauperak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja, kerapdigunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, namun kini banyakdijumpai di dalam bentuk produk sovenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang mengandung supayamempermudah lahirnya sang bayi ke dunia danuntuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat prosespersalinan.Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi,seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakansebagai pembungkus jenazah), dan UlosSibolang.

No comments:

ULOS

Uniknya Kain Ulos Sumatera Utara di Galeri Indonesia WOW

” Jaman dan Teknologi yang saat  ini sedang maju pesat, meninggalkan jejak kebudaayan dan tradisi bangsa kita yang sangat jauh. Jika bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi? bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga menggunakan Produk hasil buatannya sendiri “

     Hari ini saya mengikuti acara” Kompasiana Coverage Galeri Indonesia WOW “yang mengusung Tema ” Socio-Techno Preneurship For Indonesia “. Disini, saya dan 9  kawan-kawan Kompasianer Ditantang untuk membuat sebuah Artikel Mengenai Produk dari UKM secara lebih dekat dan memberikan beberapa Review dari Produk yang dipilih untuk diulas.

     Singkat cerita, saya mengelilingi Galeri Indonesia WOW dari Lt. 1 s/d 15. Yang mana Lt. 1-2 Memuat berbagai macam Produk-produk, mulai dari kesehatan, kecantikan, obat-obatan sampai Kuliner. Di lantai ini saya masih belum menemukan Inspirasi yang bisa saya jadikan sebuah artikel karna Aroma Kuliner dari berbagai Both yang membuat saya tidak konsen ( a.k.a Laper~ ).

     Setelah asik mencicipi beberapa kuliner dan melupakan tugas saya untuk membuat sebuah artikel ( #LOL ), Saya segera beranjak untuk menengok beberapa UKM Unggulan tiap Provinsi yang berada di Lt.3 s/d 15. Saya melihat banyak sekali Produk-Produk unggulan. Mulai dari Batik, Kain Tenun, Songket, Furnitur, Miniatur, dsb. Namun saya masih belum mendapatkan Inspirasi yang menurut saya Unik.

      Akhirnya, mata saya tertuju pada 1 Both yang menggunakan 1 Bahan dalam setiap Produknya. Yup, benar sekali. Produk Itu adalah Kain Ulos yang berasal dari Tanah Sumatera Utara. Sebelum saya melanjutkan Produk apa saja yang dibuat, saya akan sedikit menerangkan apa itu Kain Ulos.

     Jika dilihat dari segi kegunaannya, kain ulos sendiri sama dengan kain lainnya, yang bisa di gunakan sebagai Pakaian atau Fashion Style. Namun dari segi Makna, kain ulos banyak mengandung Makna. Ada beberapa kain ulos yang dipakai sebagai acara Syukuran, Pernikahan, atau Acara yang memang tujuannya merayakan suatu kebahagian. Namun ada pula yang memang Khusus untuk acara ” Pesta Kematiaan” misalnya Ulos Antakantak , yang mana ulos ini dipakai saat melayat orang meninggal.

     Apa yang membuat saya tertarik pada Both ini. Alasan saya memilih Both ini, Karna keunikan dari Ulos itu sendiri, baik dari segi ” Kegunaan” maupun segi ” Makna ” nya. jika ada teman-teman yang mengatakan bahwa ” Ahhh kain ulos itu kampungan, ga bermutu, dan ga modis “, Teman teman salah. Both ini sangat memanfaatkan keunikan dari kain ulos dari Sumatera utara dan dengan Kreatifitas dari beberapa orang, Akhirnya kain Ulos pun disulap menjadi Produk-Produk Unik dari UKM ini. Untuk Contoh Produknya, Kawan-kawan pembaca bisa melihat gambar dibawah ini.

       Bicara soal kualitas, banyak barang-barang yang dengan Percaya dirinya membuat ” Garansi Barang Terjamin “. Untuk Produk UKM yang ada di Galeri ini, bisa dibilang bahan-bahan yang dipakai disetiap produk merupakan Bahan Pilihan a.k.a memang barang bagus seperti pepatah bilang ” ada harga, ada kualitas “.Namun tenang saja, menurut saya, Harga di Both ini masih Relatif Murah Meriah Kok, Sekitar Rp. 150.000,00 untuk Beberapa Baju/Batiknya. Terjangkaukan?

     Produk-Produk diatas adalah produk-produk yang memang di Berdayakan dari UKM. Saya coba bertanya kepada ” Sang Penjaga ” dari Both Sumatera Utara yang bernama Mas Alfan. Berikut sedikit percakapan saya oleh mas Alfan.
A untuk Mas AlfanM untuk saya

M       : Mengenai Kain Ulos Sendiri, apakah ada artiannya Mas dalam tiap pola atau bentuk atau panjang tiap kain ulosnya.

A       : Iya mas, Setiap Kain ulos itu punya Makna sendiri-sendiri, dan beberapa ulos juga mempunya “Jenjang” atau “Tingkatan” nya

M     : Okeh mas Alfan, tadi kita kan sudah membicarakan mengenai arti makna dari tiap-tiap Kain Ulos nih, yang saya mau tanyakan , untuk Both ini sendiri, Suppliernya sendiri bagaimana?


A       : Oh, kalo untuk suppliernya sendiri, kita memang mengambil dari UKM yang ada di daerah-daerah mas, karna untuk tiap kain ulos itu kan berbeda-beda daerahnya. jadi memang karna kita sudah tergabung UKM, kita ambil Produk dari UKM langsung

M        : Bagaimana dengan harga dari Produk yang dijual disini Mas Alfan?

A        : Ohh kalau untuk harga kita relatif terjangkau sih mas, semua tergantung dari kualitas dan pembuatannya sendiri.

M     : Begitu ya, apakah Produk ini di iklankan di Sosial Media? Misalnya Facebook, Instagram dll. atau di Iklankan Di oLx misalnya.

A        : Untuk saat ini kita masih mempersiapkan untuk pengiklanannya mas. Nanti setelah siap, kita bakal kasih Info ke Mas.


     Dari Informasi yang bisa saya kupas dari Beberapa Both yang saya kunjungi yang ada di Galeri Indonesia Wow. Setiap Both Provinsi, menggunakan Layanan Media Sosial untuk menunjang Penjualan dari Produk UKM yang mereka jual. Tak sedikit yang berkunjung ke Galeri Indonesia  Wow ini ( Terlihat dari Daftar Tamu yang sebagian ada di beberapa Both ).

     Setelah saya mengunjungi Both dari Sumatera Utara. saya kembali bergegas untuk berkumpul kembali bersama 9 Kompasianer lainnya dan mengikuti kegiatan acara yang ada disini. dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13;40, yang mana artikel harus segera di Tayangkan.

Well, mungkin ini yang bisa saya ceritakan saat saya berada di Galeri Indonesia WOW dan mereview salah satu Both yang ada disini.
Jika ada kata-kata yang kurang pantas atau ada yang salah mohon dimaafkan

Saran dan kritik sangat diperlukan supaya saya bisa menjadi penulis yang lebih baik.
akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Kain Batik Ulos

Kain Batik Motif Ulos

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera utara. Di pusat batik jakarta terlihat jenis kain batik motif ulos yang menjadi kain tradisional ,yang tetap terjaga konsistensinya. Warna merah, hitam, kuning dan hijau yang menonjol mencerminkan warna yang di sukai oleh masyarakat Batak dan Melayu.

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera utara. Di pusat batik jakarta terlihat jenis kain batik motif ulos yang menjadi kain tradisional ,yang tetap terjaga konsistensinya. Warna merah, hitam, kuning dan hijau yang menonjol mencerminkan warna yang di sukai oleh masyarakat Batak dan Melayu.

Pelesiran ke Danau Toba di Sumatera Utara, jangan lupa mampir ke Pulau Samosir. Di sini Anda bisa berburu suvenir khas nuansa Batak dengan harga miring dan berkualitas, sekaligus menjajal warisan budaya Batak yaitu ulos.

Ulos merupakan mahakarya Indonesia yang berasal dari salah satu peradaban tertua di Asia sejak 4.000 tahun lalu, yaitu kebudayaan Batak. Ulos bahkan telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.

Di Batak, khususnya kawasan Danau Toba, ulos merupakan simbol adat yang dinilai sakral dan tradisinya masih lestari. Ulos sangat penting digunakan oleh orang Batak untuk upacara adat, pernikahan hingga kematian.

Namun, meski ulos telah ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda nasional sejak tanggal 17 Oktober 2014 dan sedang gencar dijadikan warisan budaya dunia melalui UNESCO, tak banyak yang tahu filosofi sebenarnya dari ulos.

Selain nilai estetika, pada sehelai ulos juga sarat nilai seni, sejarah, religi, dan budaya. Tiap motif, pilihan warna, jenis, hingga cara pemakaian dan pemberian ulos, semua punya makna tersendiri.

Secara garis besar, ulos memiliki makna kehidupan dan representasi semesta alam. Ulos juga simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Merunut sejarahnya, ulos secara harfiah berarti selimut. Dulunya nenek moyang suku Batak adalah orang gunung. Mereka menganggap ulos paling nyaman, praktis, dan aman bagi kehidupan sehari-hari, untuk menghangatkan tubuh dan melindungi dari dingin, ketimbang Matahari dan api.

Lambat laun ulos menjadi kebutuhan primer dan semakin penting, terlebih ketika tetua adat menggunakannya pada pertemuan adat resmi. Pun perempuan-perempuan Batak yang bangga menenun, memakai, dan mewariskannya kepada keluarga sebagai suatu pusaka.

Mengingat tingginya nilai ulos bagi kehidupan, dibuatlah aturan adat yang mengawali akar filosofinya. Namanya ritual Mangulosi atau memberikan ulos.

Yakni seseorang hanya boleh ‘mangulosi’ mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada di bawah. Misalnya Natoras tu ianakhon (orang tua kepada anak), tetapi tidak sebaliknya.

Jenis ulos yang diberikan juga harus sesuai dengan ketentuan adat. Kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana, fungsinya tidak bisa bertukar karena tiap ulos bermakna tersendiri.

Misal, jenis ulos Ragidup sebagai simbol kehidupan dan paling tinggi derajatnya ketimbang jenis lain tak bisa sembarangan diberikan selama status orang tersebut belum menikahkan anak, meski ia sedang menghadapi momen penting menjadi mempelai. Sebagai gantinya, mempelai akan diberi ulos Ragihotang yang bermakna doa.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang non-Batak. Pun digunakan sebagai jimat (tondi) yang diyakini memiliki kekuatan melindungi raga dari hal jahat lewat sisipan doa.

Penempatan ulos yang digunakan pun bermakna. Yakni menangkal cuaca panas dan dingin, hingga memperlihatkan status.

Budayawan Raya Siregar menjelaskan, ulos ada yang dikalungkan, digunakan sebagai syal, dilingkarkan ke badan, dan posisi lain seperti pengikat kepala. Umumnya, ulos yang diselempangkan itu untuk para raja. Motif ulos bisa berbeda-beda, sesuai kasta dan keturunan. Sementara soal warna, para raja dan ratu biasa menggunakan emas dan merah.

Saat ini, segelintir pemerhati kelestarian ulos telah berinovasi menghidupkan kembali teknik pewarnaan alam yang dikenal dengan istilah harimontong. Seperti warna biru keungu-unguan, dan kulit pohon jabi-jabi (beringin) untuk warna coklat.

Akan tetapi yang perlu diketahui, pada dasarnya warna ulos hanya tiga, dan memiliki makna spiritual bagi Masyarakat Batak.

“Yaitu warna Hitam, Putih dan Merah. Ketiga warna ini merupakan ragi kehidupan. Merah artinya keberanian, hitam artinya kepemimpinan dan putih artinya kesucian,” ujar Monang Naipospos, pegiat budaya Batak dikutip Tribun Medan.

Ia juga meluruskan kesalahan anggapan bahwa ulos memiliki warna yang beragam. “Di luar ketiga warna ini disebut dengan nama sekka-sekka,” tegasnya.